Selasa, 09 Januari 2018

Refleksi Diri

Refleksi diri Tanggal 22 Oktober 2017
Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. itulah apa yang saya dapat simpulkan setelah selesai melakukan interview pertama saya di VIhara, apa yang Suhu ceritakan begitu memberikan dampak bagi saya. semakin banyak kita berbuat baik kepada sesama, maka semakin banyak pula benih-benih kebaikan yang akan kita dapat nantinya. selain itu, tentu saja saya belajar hal lain; bahwa agama Buddha itu sendiri adalah agama yang sangat meninggikan nilai perdamaian, dan juga tidak pernah memaksa.

Refleksi diri Tanggal 5 November 2017
Setelah selesai melakukan interview pada pertemuan kedua, yang berlokasi di Gereja, saya dapat menarik kesimpulan bahwa umat-umat Kristen adalah orang-orang yang sangat mempercayai dan setia kepada Tuhannya, sikap saling percaya dan keteguhan inilah salah satu dari sekian banyak hal yang saya dapat terapkan dalam kehidupan sehari-hari saya. dan sama seperti agama lainnya, saya rasa, agama Kristen ini juga menjunjung tinggi rasa perdamaian.

Refleksi diri Tanggal 14 Desember 2017
Sama seperti interview yang telah dilakukan sebelumnya, kali ini saya mendapat kesempatan untuk mewawancarai salah seorang petinggi agama Islam di Masjid Istiqlal. Apa yang dapat saya simpulkan adalah; ternyata bahkan umat Islam begitu menjunjung tinggi kebersamaan, dan betapa patuhnya mereka dalam melaksanakan ibadah sholat 5 waktu, bahkan mengikuti puasa agar dapat membersihkan diri mereka. selain itu, pak Ustad juga memberikn saya banyak pencerahan yang pstinya akan sangat berguna bagi character development saya kedepannya.


Joshua Dimas Bagaskara,
2001562640

Senin, 08 Januari 2018

Refleksi Diri

Refleksi diri Pertemuan 1 (22 Oktober 2017)
Pada wawancara ke-1 ini, saya dan teman-teman saya mendapatkan kesempatan dalam mewawancara petinggi agama dari agama Buddha atau Suhu. Dan dari hasil wawancara kami, saya mengetahui bahwa agama Buddha merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian, selain itu agama Buddha juga tidak meminta umatnya untuk selalu percaya dengan apa yang ada, karena bisa saja ada yang benar dan ada yang tidak, artinya yang tidak benar sebaiknya tidak dipercaya. Dan di dalam agama Buddha, kita tidak menyebutnya dengan dosa, melainkan dengan karma. Ada karma baik dan buruk, jika yang kita tuai adalah kebaikan maka buah yang kita dapatkan pun juga kebaikan, begitu pula sebaliknya.

Refleksi diri Pertemuan 2 (5 November 2017)
Dan pada wawancara ke-2 ini, kami mendapatkan kesempatan untuk mewawancara Pak Pendeta dari agama Kristen. Dari wawancara ini, saya menyadari bahwa agama Kristen merupakan agama yang sangat berpegangan teguh kepada imannya. Dan sama juga dengan agama lainnya, agama Kristen juga menginginkan perdamaian walaupun ada banyaknya perbedaan. Begitu pula dengan agama lainnya,jika kita melakukan hal baik dan tidak melarang larangan yang ada, maka hal baik juga pun yang akan kita dapatkan kembali dan sebaliknya.

Refleksi diri Pertemuan 3 (14 Desember 2017)

Kemudian pada wawancara ke-3 kali ini, kelompok kami mendapatkan kesempatan mewawancarai seorang petinggi agama dari agama Islam. Pada wawancara kali ini, saya juga mengerti bahwa agama Islam pun sama dengan agama yang lainnya yaitu menjunjung tinggi perdamaian dan berpegang teguh dengan imannya masing-masing. Selain it, pada wawancara dengan Pak Ustad kali ini, saya juga mendapat pencerahan karena masih ada beberapa hal yang belum saya ketahui sebenarnya.

Natalia Desianti Tanzil,
2001545760

Minggu, 07 Januari 2018

Refleksi Diri

Refleksi diri pertemuan pertama, 22 Oktober 2017
Setelah melakukan interview dengan petinggi agama Buddha, saya menyadari bahwa Buddha adalah agama yang sangat damai. Menurut suhu, Buddha tidak pernah memaksa siapa pun untuk mengikuti ajaranNya. Kita bisa menilai sendiri, apakah ajaran Buddha itu benar dan cocok untuk kita, dan kita bisa memutuskan sendiri apakah kita ingin mengikuti ajaran tersebut. Menurut saya, hal ini sangatlah baik.

Refleksi diri pertemuan kedua, 5 November 2017
Setelah melakukan wawancara dengan petinggi agama Kristen, saya merasa agama Kristen merupakan agama yang sangat bijak. Melalui jawaban pendeta, saya bisa melihat bahwa beliau, dan tentu saja penganut agama Kristen yang baik, sangat percaya terhadap ajaran Tuhannya. Juga, pendeta tidak mencampurkan urusan agama dengan permasalahan lainnya.

Refleksi diri pertemuan ketiga, 14 Desember 2017

Setelah mewawancarai petinggi agama Islam, saya mengerti bahwa agama Islam merupakan agama yang perhatian. Mendengar jawaban dari uztad, saya mengerti bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk percaya pada Tuhannya. Pak uztad juga berulang kali mengingatkan kami untuk tidak menyakiti sesama kami, apalagi orang tua kami. 



 Sharen Valerian Huang,
2001567124

Jumat, 05 Januari 2018

Refleksi Diri

Refleksi diri pada pertemuan pertama, 22 Oktober 2017
Setelah bertemu dengan Suhu, saya merasa bahwa "Wah, ternyata agama Buddha adalah agama yang menjunjung tinggi rasa perdamaian", dari apa yang saya dengar, ketika Suhu bercerita tentang agama Buddha, saya dapat menyimpulkan bahwa ajaran Buddha tidak pernah memaksa siapapun untuk mengikuti suatu ajaran, cukup dari dalam diri kita yang menilai, pantaskah kita melakukan hal tersebut. lalu saya juga dapat belajar banyak hal dari sistem Karma, apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai, kalau kita menabur benih kebaikan, maka benih kebaikan pula yang akan kita dapat.

Refleksi diri pertemuan kedua, 5 November 2017
Seusai bertemu dengan pak Pendeta, saya belajar banyak darinya, ternyata agama Kristen adalah agama yang begitu menjunjung tinggi iman yang mereka pegang, pak Pendeta juga terlihat begitu berpegang teguh dengan apa yang ia percaya benar, agama inipun menginginkan banyak hal tentang perdamaian dan ajaran yang mengajarkan kita untuk selalu percaya dan berpegang teguh pada Iman, seperti apa yang diajarkan Tuhan kepada mereka melalui injil-injilnya. 

Refleksi diri pertemuan ketiga, 14 Desember 2017
Maraknya berita tentang ormas-ormas yang mengatasnamakan nama Islam terkadang membuat saya berpikir keras, "Kok gitu? bukankah kita tinggal di satu negara? bukankah kita satu bangsa?" namun, setelah mewawancarai salah satu petinggi agamanya, saya menyadari bahwa ternyata Islampun menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan, pada interview ketiga ini, pak Ustadpun memberikan saya dan kelompok saya berbagai macam pencerahan, saya dapat belajar banyak hal yang tidak saya ketahui dari pak Ustad.

Helsa Evelyn Setiawan,
2001539865

Sabtu, 16 Desember 2017

Interview Ketiga, 14 Desember 2017

Pada tanggal 14 Desember 2017 yang lalu, kami kelompok CB : Agama kelas LA62 melakukan Interview pemimpin agama untuk yang ketiga kalinya. di Masjid Istiqlal, Jakarta.

berikut adalah jawaban dari Interview yang kami dapat :

Konsep
1. Konsep Keagamaan 
Dalam agama Islam mempercayai bahwa Tuhan itu adalah Allah, dan hanya satu, tidak ada yang lain, dan Muhammad adalah utusan dan Nabi Allah, dalam agama islam, rukun isla morang islam wajib percaya dengan kaliman syahdat, percaya pada kitab, tuhan, malaikat dan rasul-rasulnya, percaya pada takdir baik dan buruk

2. Ibadahnya
Seorang yang telah mengaku beragama islam, wajib menjalankan ibadah yang telah disyariatkan oleh ajaran agama Islam, di dalam Islam, dikenal dgn 5 pillar Islam, yaitu sholat, puasa, zakat/donasi, berhaji bagi yang mampu. selain pillar, ada pula 5 sholat yang wajib dilakukan, yaitu :
  1. Sholat Zhuhur
  2. Sholat Ashar
  3. Sholat Mahgrib
  4. Sholat Isya
  5. Sholat Subuh.
Puasa termasuk ibadah juga, dan puasa di bulan suci adalah wajib dilakukan, ada puasa sunnah juga, setiap senin dan kamis, namun tidak wajib.

3. Dosa, Surga dan Neraka
dalam agama Islam, orang yang berdosa adalah orang yang melanggar aturan-aturan yang sudah di syariatkan dalam agama Islam, ada dosa besar dan dosa kecil
dosa yang paling besar adalah percaya pada tuhan lahin selain allah/musrik. yang tidak ada ampunannya, membunuh, durhaka, dengan total 7 dosa besar.
Dosa kecil : khilaf/lupa, lepas kontrol emosi, menyakiti sesama, dosa-dosa kecil dapat dihapuskan dengan ibadah yang dilakukan (cth sholat, ikut puasa di bulan suci) orang yang pernah berdosa memhon ampunan, akan diberikan ganjaran pahala.

Perbedaan 

1. Pentingnya kebersamaan dalam perbedaan & kenapa
Bangsa ini memiliki perbedaan, meski mayoritas adalah agama Islam, namun bangsa ini bukan negara Islam, namun kita adalah negara pancasila yang berprinsip Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan tidak perlu dipersoalkan, karena kita tinggal di negara yang menganut Bhinneka Tunggal Ika, berbeda namun tetap satu. 
bangsa Indonesia sudah ditakdirkan untuk memeluk berbagai macam agama, penganut agama yang beraneka ragam ini tidak mukin dijadikan satu macam saja, karena itu mustahil. kita harus mengakui setiap agama, suku dan ras. Justru karena perbedaan ini yang membuat bangsa ini menjadi indah.


2. Tingkat toleransi perbedaan di Indonesia
Sesungguhnya bangsa ini wajib bersyukur atas kehidupan beragama di Indonesia ini yang mempunya dan memiliki sikap toleransi yang sangat besar, nilai toleransi yang dimiliki ini, dipuja dan dielu-elukan Negara lain. menurut pak Ustad, meskipun ada gesekan-gesekan sedikit antar warganya, bangsa ini masih tetap utuh dan tidak terpecah belah, menjadikan nilai tersebut nilai yang mahal dan tak ternilai harganya. bila dibanding dengan negara-negara lain yang seringkali perang.


Foto bersama Kelompok

Istiqlal

Berikut hasil video dari interview kami, hasilnya bisa di cek disini

Rabu, 08 November 2017

Interview kedua, 5 November 2017

Pada tanggal 5 November 2017 yang lalu, kami kelompok CB : Agama kelas LA62 melakukan Interview pemimpin agama untuk yang kedua kalinya. sebuah Gereja di daerah Tangerang.

berikut adalah jawaban dari hasil Interview yang kami dapat dari Pendeta :

Konsep
1. Konsep Keagamaan
Dalam agama Kristen, kita memiliki konsep bahwa Tuhan itu adalah satu, yaitu Yesus Kristus, karena fiman berkata bahwa ia adalah satu satunya jalan keselamatan. bagi mereka yang percaya kepadanya, akan mendapat keselamatan. bagi pengikutnya untuk hanya percaya kepada satu Allah, yang memberi jalan keselamatan bagi para umatnya.

2. Ibadahnya
dalam Kristiani, ada ibadah pribadi, dimana kita membangun hubungan dengan Tuhan (secara pribadi), ada corporate/ibadah minggu atau kebaktian mingguan, yang dilakukan setiap minggu bersama rekan seiman dan teman seiman, dalam suatu komunitas bersama, atau sering disebut ibadah kebersamaan.

3. Peraturan
Mengenal hukum dasar yaitu 10 Hukum Taurat dalam Kristiani

  1. .Aku lah Tuhan Allah mu tiada Tuhan selain Aku 
  2. Jangan Menyembah Berhala
  3. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan
  4. Kuduskan hari Sabbat
  5. Hormati orangtuamu
  6. Jangan membunuh
  7. Jangan berzinah
  8. Jangan mencuri
  9. Jangan bersaksi dusta
  10. Jangan meninginkan yang bukan milik atau hak kita
Semuanya diatur oleh 10 Hukum yang ada, dan menggunakan standar firman yang ada.


4. Dosa, Surga dan Neraka
Konsep dosa dalam agama Kristen, awalnya manusia telah berdosa (adam dan hawa) dan dosa itu dosa yang diturunkan, maka sejak lahir manusia sudah berdosa. namun dalam Kristiani, ada suatu rencana penyelamatan dari Allah yaitu ia memberikan anak tunggalnya yaitu Tuhan Yesus Kristus untuk mati di kayu salib, demi menyelamatkan umat manusia. mereka percaya bahwa Tuhan akan memberi hidup yang kekal, berdampingan dengannya di surga, kepada umat-umatnya yang percaya akan ajaran dan firmannya.

Perbedaan tentang :

1. Pentingnya kebersamaan dalam perbedaan & kenapa
Dalam interviewnya, Pendeta berujar bahwa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, tentu saja, kebersamaan dalam perbedaan itu penting. tinggal bersamaan antara agama satu dengan yang lain, dan berharap agar dapat bersatu sama lain,

2. Tingkat toleransi perbedaan di Indonesia
Tingkat toleransi cukup memperihatinkan, sering kali ada rumah-rumah ibadah yang ditutup atau dihancurkan, disisi lain ada gesekan atau friksi, amarah para warga yang tersulut terjadi karena dorongan satu atau dua orang yang kemudian menjadi masalah besar
semoga toleransi bisa di Indonesia dapat diperbaiki, perbedaan akan terus ada, namun alangkah baiknya apabila kita bisa bersatu, dan bertoleransi satu sama lain.


Foto kelompok bersama Pendeta

Berikut hasil video dari interview kami, bisa di cek disini

Senin, 23 Oktober 2017

Interview pertama, 22 Oktober 2017

Pada tanggal 22 Oktober 2017 lalu, kami kelompok CB : Agama dari kelas LA62 pergi ke Vihara di daerah Pantai Indah Kapuk untuk mewawancarai salah seorang Suhu di sana.

berikut adalah jawaban hasil dari interview yang kami dapat dari Suhu :

1. Konsep keagamaan
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep agama samawi. dimana alam dan segenap ciptaannya diciptakan dengan tujuan akhir dari hidup adalah untuk kembali ke surga, ciptaan Tuhan. 
Dalam agama buddha yang paling mudah di mengerti adalah semuanya masuk akal. jadi saat mempelajari dan mendengarkan isinya, kita harus dengan menggunakan logika, lalu dicerna lagi apakah isinya benar atau tidak. dalam Interviewnya, Suhu mengatakan bahwa semua ajaran tidak ada yg mutlak atau dimutlakan, jika tidak ada pebuktian, tidak perlu dipercaya.

2. Ibadahnya
Isi dari ibadah bergantung tradisi, namun isi semua ibadah hanya membacakan sabda dari sang Buddha. Semua ceramah Buddha, saat Buddha mencapai pencerahan sempurna, ia berceramah selama 40 tahun, sabda itu berisi kebenaran, dari apa yang ia lihat dan pertanyaan-pertanyaan dari murid-muridnya, dan inti dari ceramahnya adalah bagaimana kita sbg makhluk hidup mencapai kesejahteraan yang sejati.

3. Peraturan
Ada Pancasila Buddha, yang berisikan :
  1. Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan.
  2. Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan.
  3. Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila.
  4. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar /berbohong, berdusta, fitnah, omongkosong.
  5. Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan.
Sang Buddha mengajarkan ini dengan catatan kalau ingin menjadi manusia yang benar harus melakukan pancasila tersebut.

4. Dosa, Surga dan Neraka
Tidak ada yang namanya dosa, namun ada Karma, Karma itu adalah timbal balik dari perbuatan kita. semua perbuatan yg kita lakukan pasti akan mendapat karma, karma tersebut akan menjadi benih-benih reinkarnasi. lalu neraka dan surga ada dalam hati kita. 
kebanyakan dari kita tidak akan mengingat kebaikan, namun cenderung mengingat kejahatan,menjadikan semua gambaran akan neraka terlihat bergantung dari hal-hal yang pernah kita perbuat. 

Perbedaan tentang : 

1. Pentingnya kebersamaan dalam perbedaan & kenapa
perbedaan agama tidak perlu dipusingkan, karena Sang Buddha tidak pernah mengajarkan bahwa ajaran lain itu adalah salah, Kita tidak perlu menunjuk orang lain itu salah. oleh karena itu, kebersamaan itu adalah penting. semua manusia pernah menjadi keluarga kita, karena segala hal yang pernah kita temui adalah nasib, dan segala hal yang pernah terjadi semuanya berhubungan dengan kita.

2. Tingkat toleransi perbedaan di Indonesia
Menurut Suhu, tingkat toleransi di Indonesia itu baik, meskipun ada beberapa golongan yang memliki pendapat yang berbeda dan bentrok pendapat, namun semua masih dapat dibetulkan.

Suhu

Foto Kelompok bersama Suhu

Berikut adalah hasil video dari interview kami, bisa dicek disini

Refleksi Diri

Refleksi diri Tanggal 22 Oktober 2017 Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. itulah apa yang saya dapat simpulkan setelah selesai me...