Jumat, 05 Januari 2018

Refleksi Diri

Refleksi diri pada pertemuan pertama, 22 Oktober 2017
Setelah bertemu dengan Suhu, saya merasa bahwa "Wah, ternyata agama Buddha adalah agama yang menjunjung tinggi rasa perdamaian", dari apa yang saya dengar, ketika Suhu bercerita tentang agama Buddha, saya dapat menyimpulkan bahwa ajaran Buddha tidak pernah memaksa siapapun untuk mengikuti suatu ajaran, cukup dari dalam diri kita yang menilai, pantaskah kita melakukan hal tersebut. lalu saya juga dapat belajar banyak hal dari sistem Karma, apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai, kalau kita menabur benih kebaikan, maka benih kebaikan pula yang akan kita dapat.

Refleksi diri pertemuan kedua, 5 November 2017
Seusai bertemu dengan pak Pendeta, saya belajar banyak darinya, ternyata agama Kristen adalah agama yang begitu menjunjung tinggi iman yang mereka pegang, pak Pendeta juga terlihat begitu berpegang teguh dengan apa yang ia percaya benar, agama inipun menginginkan banyak hal tentang perdamaian dan ajaran yang mengajarkan kita untuk selalu percaya dan berpegang teguh pada Iman, seperti apa yang diajarkan Tuhan kepada mereka melalui injil-injilnya. 

Refleksi diri pertemuan ketiga, 14 Desember 2017
Maraknya berita tentang ormas-ormas yang mengatasnamakan nama Islam terkadang membuat saya berpikir keras, "Kok gitu? bukankah kita tinggal di satu negara? bukankah kita satu bangsa?" namun, setelah mewawancarai salah satu petinggi agamanya, saya menyadari bahwa ternyata Islampun menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan, pada interview ketiga ini, pak Ustadpun memberikan saya dan kelompok saya berbagai macam pencerahan, saya dapat belajar banyak hal yang tidak saya ketahui dari pak Ustad.

Helsa Evelyn Setiawan,
2001539865

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi Diri

Refleksi diri Tanggal 22 Oktober 2017 Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. itulah apa yang saya dapat simpulkan setelah selesai me...