Senin, 08 Januari 2018

Refleksi Diri

Refleksi diri Pertemuan 1 (22 Oktober 2017)
Pada wawancara ke-1 ini, saya dan teman-teman saya mendapatkan kesempatan dalam mewawancara petinggi agama dari agama Buddha atau Suhu. Dan dari hasil wawancara kami, saya mengetahui bahwa agama Buddha merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian, selain itu agama Buddha juga tidak meminta umatnya untuk selalu percaya dengan apa yang ada, karena bisa saja ada yang benar dan ada yang tidak, artinya yang tidak benar sebaiknya tidak dipercaya. Dan di dalam agama Buddha, kita tidak menyebutnya dengan dosa, melainkan dengan karma. Ada karma baik dan buruk, jika yang kita tuai adalah kebaikan maka buah yang kita dapatkan pun juga kebaikan, begitu pula sebaliknya.

Refleksi diri Pertemuan 2 (5 November 2017)
Dan pada wawancara ke-2 ini, kami mendapatkan kesempatan untuk mewawancara Pak Pendeta dari agama Kristen. Dari wawancara ini, saya menyadari bahwa agama Kristen merupakan agama yang sangat berpegangan teguh kepada imannya. Dan sama juga dengan agama lainnya, agama Kristen juga menginginkan perdamaian walaupun ada banyaknya perbedaan. Begitu pula dengan agama lainnya,jika kita melakukan hal baik dan tidak melarang larangan yang ada, maka hal baik juga pun yang akan kita dapatkan kembali dan sebaliknya.

Refleksi diri Pertemuan 3 (14 Desember 2017)

Kemudian pada wawancara ke-3 kali ini, kelompok kami mendapatkan kesempatan mewawancarai seorang petinggi agama dari agama Islam. Pada wawancara kali ini, saya juga mengerti bahwa agama Islam pun sama dengan agama yang lainnya yaitu menjunjung tinggi perdamaian dan berpegang teguh dengan imannya masing-masing. Selain it, pada wawancara dengan Pak Ustad kali ini, saya juga mendapat pencerahan karena masih ada beberapa hal yang belum saya ketahui sebenarnya.

Natalia Desianti Tanzil,
2001545760

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi Diri

Refleksi diri Tanggal 22 Oktober 2017 Apa yang kita tabur, itulah yang kita tuai. itulah apa yang saya dapat simpulkan setelah selesai me...