Refleksi diri Pertemuan 1 (22 Oktober 2017)
Pada wawancara ke-1 ini, saya dan
teman-teman saya mendapatkan kesempatan dalam mewawancara petinggi agama dari
agama Buddha atau Suhu. Dan dari hasil wawancara kami, saya mengetahui bahwa
agama Buddha merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian, selain itu
agama Buddha juga tidak meminta umatnya untuk selalu percaya dengan apa yang
ada, karena bisa saja ada yang benar dan ada yang tidak, artinya yang tidak
benar sebaiknya tidak dipercaya. Dan di dalam agama Buddha, kita tidak
menyebutnya dengan dosa, melainkan dengan karma. Ada karma baik dan buruk, jika
yang kita tuai adalah kebaikan maka buah yang kita dapatkan pun juga kebaikan,
begitu pula sebaliknya.
Refleksi diri Pertemuan 2 (5 November 2017)
Dan pada wawancara ke-2 ini, kami
mendapatkan kesempatan untuk mewawancara Pak Pendeta dari agama Kristen. Dari wawancara
ini, saya menyadari bahwa agama Kristen merupakan agama yang sangat berpegangan
teguh kepada imannya. Dan sama juga dengan agama lainnya, agama Kristen juga
menginginkan perdamaian walaupun ada banyaknya perbedaan. Begitu pula dengan
agama lainnya,jika kita melakukan hal baik dan tidak melarang larangan yang
ada, maka hal baik juga pun yang akan kita dapatkan kembali dan sebaliknya.
Refleksi diri Pertemuan 3 (14 Desember
2017)
Kemudian pada wawancara ke-3 kali ini,
kelompok kami mendapatkan kesempatan mewawancarai seorang petinggi agama dari
agama Islam. Pada wawancara kali ini, saya juga mengerti bahwa agama Islam pun sama
dengan agama yang lainnya yaitu menjunjung tinggi perdamaian dan berpegang
teguh dengan imannya masing-masing. Selain it, pada wawancara dengan Pak Ustad
kali ini, saya juga mendapat pencerahan karena masih ada beberapa hal yang
belum saya ketahui sebenarnya.
Natalia Desianti Tanzil,
2001545760
Tidak ada komentar:
Posting Komentar